Cerita Inspirasi Diri Sendiri

2010
09.10

Apriska Sagita .M.

H44100119

Laskar 9

Ketika Orang Tuaku Berujar

Tentunya kita sebagai anak pernah membantah atau tidak mendengarkan perkataan orang tua kita. Saya pun sebagai seorang anak tidak menampik hal tersebut.  Inilah sepenggal kisah saya, mengenai ke khilafan saya kepada orang tua yang saya cintai.

Saat itu, saya baru saja lulus SMA. Seperti hal-nya siswa-siswa SMA lain yang mulai gencar mencari Universitas Negeri untuk kuliah, saya pun tak terkecuali melakukan hal yang sama. Mondar-mandir melakukan pendaftaran ke tempat satu ke tempat yang lain. Dari universitas yang satu ke universitas negeri yang lain. Karena banyaknya Universitas Negeri yang membuka berbagai jalur penerimaan, melalui ujian mandiri atau PMDK, membuat banyak sekali lulusan SMA seperti saya gencar mendaftarkan  diri.

Namun, banyaknya jalur yang terbuka lebar membuat saya bersantai dalam menghadapi ujian masuk ke universitas. Orang tua saya yang melihat perilaku saya ini tentu saja sangat prihatin. Mereka berulangkali mengingatkan saya untuk belajar. Mereka benar-benar khawatir jalan saya akan tersendat untuk masuk ke Perguruan Tinggi Negeri. Saya yang terlena karena banyaknya jalur masuk ke universitas, hanya menganggap angin lalu nasihat kedua orang tua saya tersebut.

Saya pun mulai mengikuti ujian masuk universitas sesuai dengan jadwal yang telah ditentukan. Selesai ujian masuk, saya harus menunggu pengumuman yang biasanya memakan waktu seminggu hingga sebulan. Lalu, setelah seminggu atau sebulan berlalu, saya harus mengecek hasil pengumuman melalui internet. Saya sungguh ngeri bukan kepalang menghadapi pengumuman hasil seleksi ujian masuk via internet tersebut. Ketika saya mulai melakukan surfing di internet, membuka alamat website universitas yang dituju dan mulai memasukkan nomor ujian saya. Betapa miris hati saya saat melihat tulisan ‘MAAF ANDA BELUM DITERIMA’, di layar kaca komputer.

Entah sejak saat itu sudah berapa kali saya mengikuti ujian masuk universitas negeri dan selalu tulisan ‘MAAF ANDA BELUM DITERIMA’ yang muncul di layar kaca komputer setiap kali saya mengecek pengumuman hasil seleksi ujian masuk saya. Frustasi? sudah tentu. Sedih? apalagi. Orang tua saya terus mengingatkan saya, bahwa kegagalan yang saya alamai karena saya kurang belajar dan berikhtiar. Barulah setelah beberapa kali gagal masuk ke universitas yang saya inginkan, saya mulai memikirkan perkataan kedua orang tua saya.

Apakah selama ini saya sudah belajar dengan giat? Apakah saya telah berikhtiar kepada allah dan memohon pertolongan kepadanya dengan benar? Semua jawaban yang ada di otak saya adalah belum. Saya belum sepenuhnya giat belajar menghadapi ujian. Saya juga belum sepenuhnya berikhtiar kepada allah dengan baik. Astagfirullah. Terbuka mata saya, betapa kegagalan saya selama ini karena saya tidak mendengarkan nasihat dan peringatan kedua orang tua saya. Jikalau saja saya lebih awal menyadari kesalahan saya, jika saja saya mendengarkan perkataan kedua orang tua saya, tentunya saat itu saya telah menyenangkan hati kedua orang tua saya dengan pegumuman diterimanya saya di Perguruan Tinggi Negeri.

Maka, sejak hari itu saya berusaha giat untuk menjalankan nasihat kedua orang tua saya. Orang tua saya pun tidak henti-hentinya memberikan dukungan kepada saya dan mendoakan agar saya mendapatkan yang terbaik untuk masa depan saya.  Alhamdullilah, akhirnya allah memudahkan langkah saya. Pada saat pengumuman SNMPTN, saya diterima disalah satu Perguruan Tinggi Negeri. Saya sungguh bersyukur pada allah, karena allah telah membuka hati saya sehingga saya mengikuti nasihat kedua orang tua saya yang selama ini saya abaikan. Orang tua saya pun begitu senang mengetahui hasil ujian masuk saya. Mereka terus memberikan dukungan kepada saya untuk melanjutkan pendidikan saya dengan baik.

Inilah kisah saya yang ingin saya bagi kepada teman-teman sekalian. Semoga kisah saya ini dapat menginspirasi teman-teman agar lebih dekat kepada kedua orang tua kita. Karena, sesungguhnya setiap nasihat yang orang tua berikan kepada kita adalah untuk kebaikan diri kita sendiri. Semoga kita lebih menghargai dan menghormati mereka, Orang Tua kita.

Cerita Inspirasi Orang Lain

2010
09.10

Apriska Sagita .M.

H44100119

Laskar 9

Spririt of Houtman Zainal Arifin

Kisah Houtman Zainil Arifin ini, pertama kali diceritakan oleh ayah saya. Kisah ini menceritakan tentang kegigihan Bapak Houtman Zainal Arifin dalam mencapai kesuksesan hidupnya.

Bapak Houtman Zainal Arifin mulai merantau ke Jakarta sekitar tahun 60-an. Beliau membawa sejuta mimpi ketika berangkat dari kota kelahirannya menuju ke kota Metropolitan ini. Namun, beliau harus menerima kenyataan bahwa hidup di Jakarta tidaklah seindah dan semanis yang dibayangkannya. Kehidupan di Jakarta sangatlah keras. Sangat sulit bagi beliau, yang saat itu hanya seorang remaja lulusan SMA, untuk mencari pekerjaan. Beliau memilih bertahan hidup dengan menjadi pedagang asongan.

Bapak Houtman Zainal Arifin menggantungkan cita-cita yang tinggi untuk dapat merubah nasibnya. Cita-cita agar nasibnya berubah kearah hidup yang lebih baik lagi. Maka beliau mulai mencoba mengirimkan lamaran ke setiap gedung bertingkat. Keuntungan dari berjualan asongan digunakannya untuk membiayai surat lamarannya. Hingga akhirnya, beliau diterima bekerja di The First National City Bank (citibank), salah satu bank terkemuka yang berasal dari USA. Di perusahaan ini beliau bekerja sebagai seorang Office Boy (OB).

Beliau bekerja membersihkan ruang kerja, WC, dan ruangan-ruangan lainnya. Bapak Houtman tidak pernah malu dengan pekerjaannya sebagai OB. Beliau senang sekali membantu staff, bahkan teman seprofesinya dengan sukarela. Beliau juga senang sekali menambah pengetahuannya. Bapak Houtman tidak segan-segan bertanya mengenai istilah-istilah bank kepada pegawai bank.

Beliau sering ditertawakan karena menanyakan hal semacam itu kepada para staff. Namun beliau tidak perduli. Beliau terus bertanya dan belajar melalui para pegawai bank sehingga beliau mulai mengerti dan terbiasa dengan beberapa istilah bank.

Suatu hari, ketika beliau sedang bekerja. Beliau merasa tertarik pada mesin yang dapat menduplikasi dokumen (mesin fotokopi). Saat itu hanya beberapa perusahaan saja yang dapat memiliki mesin fotokopi dan untuk menjalankannya dibutuhkan seorang petugas khusus. Setelah pekerjaannya selesai, Bapak Houtman sering datang ke tempat mesin fotokopi itu berada. Beliau meminta penjelasan dan minta diajarkan bagaimana cara mengoperasikan mesin tersebut kepada petugas fotokopi.

Suatu hari, petugas fotokopi tersebut tidak datang bekerja. Otomatis hanya beliau saja yang bisa mengoperasikan mesin fotokopi tersebut. Maka sejak hari itu, beliau resmi naik pangkat sebagai petugas fotokopi. Beliau begitu senang memperoleh jabatan tersebut. Disela-sela pekerjaannya beliau terus menambah pengetahuan tentang bebagai bidang.

Beliau begitu terkejut, ketika suatu hari mendapati salah seorang karyawan memiliki setumpuk dokumen yang harus diselesaikan di mejanya. Maka, beliau menawarkan bantuan untuk membantu karyawan tersebut. Awalnya, karyawan tersebut merasa kurang yakin seorang petugas fotokopi mampu membantu menyelesaikan pekerjaannya. Namun, pada akhirnya karyawan tersebut memberikan sebagian dokumen kepada beliau untuk diselesikan dengan catatan tidak boleh ada yang salah. Tugasnya hanya membubuhkan stempel pada beberapa dokumen, dimana cap stempel tersebut tidak boleh keluar dari kotak yang telah disediakan. Beliau tidak membubuhkan cap stempel begitu saja. Bapak Houtman membaca dan mempelajari dokumen tersebut satu persatu, sehingga ia mengerti beberapa istilah dan teknis perbankan.

Bapak Houtman cepat sekali menguasai pekerjaan yang diembankan padanya.  Karena prestasi dan kerja kerasnya, akhirnya pihak Citibank mengangkatnya sebagai seorang pegawai. Tentu banyak sekali yang takjub dengan peristiwa ini. Seorang lulusan SMA dapat menjadi seorang pegawai. Tak dapat disangkal, Bapak Houtman memperoleh cibiran dari beberapa rekan kerjanya.

Semua cibiran itu tidak digubris olehnya. Beliau tetap mengerjakan pekerjaan yang diembankan padanya dengan baik. Sembilan belas tahun kemudian, sejak dirinya mulai bekerja di Citibank sebagai Office Boy, ia menduduki jabatan sebagai Vice President di perusahaan tersebut. Dari seorang pedagang asongan, Office Boy, Tukang Fotokopi, Pegawai, hingga menjadi seorang Vice President diCitibank, adalah sebuah perjuangan keras dari rasa ingin tahu dan pantang menyerah seorang Houtman Zainal Arifin dalam menggapai kesuksesan dalam hidupnya.

Kisah inilah yang menjadi sumber inspirasi bagi saya untuk terus berusaha dan bekerja keras demi meraih kesuksesan dalam hidup. Dan semuga kisah ini tidak hanya dapat menginspirasi saya, namun juga mampu menginspirasi anda.